Yang Terbit Bersama Matahari

Jum’at, 21 Juli 2017 sebuah buku berjudul “Yang Terbit Bersama Matahari” akhirnya realise. Buku ini diterbitkan oleh Plan International, sebuah organisasi hak anak dan kemanusiaan independen yang berkomitmen agar anak hidup terbebas dari kemiskinan, kekerasan, dan ketidakadilan.

DSC_5622Buku ini menceritakan sosok perempuan di bumi NTT (Nusa Tenggara Timur), dan menjawab keingintahuan para tim penulis tentang adakah perempuan-perempuan hebat yang mampu melalui segala halangan di NTT saat ini. Mengingat angka buta huruf perempuan di NTT lebih tinggi daripada laki-laki. Selain itu, lebih banyak laki-laki yang menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah di banding perempuan yang mayoritas hanya tingkat dasar.

Buku ini memberikan gambaran kehidupan perempuan di NTT, terutama di 3 daerah, yaitu Flores, Timor, dan Lembata. Dibalik segala keindahan alam yang disuguhkan NTT yang menjadi destinasi para wisatawan, ternyata ada kehidupan masyarakat desa NTT yang jauh dari kata “indah”. Mereka harus berjuang untuk sekedar mendapat sesuap nasi, apalagi untuk mengenyam bangku pendidikan. Hal yang sulit, terlebih bagi masyarakat NTT perempuan yang tidak perlu sekolah karena tuganya mengerjakan pekerjaan rumah dan berkebun.

Pendidikan bukan hal yang penting, karena mahal dan ujung-ujungnya perempuan setelah menikah akan keluar rumah (keluarga), jauh hidup bersama sang suami dan hanya mengurus rumah. Sehingga tidak merubah apapun kondisinya. Bukan hanya itu, dalam budaya NTT segala bentuk pengambilan keputusan dan kepemimpinan berada di tangan laki-laki. Perempuan dianggap tidak bisa menjadi pemimpin, tidak bisa mengelola pembangunan, dsb.

Dari segala bentuk kerikil tajam yang dihadapi oleh perempuan NTT, muncullah 11 tokoh yang kisahnya di muat dalam buku. Dengan harapan dapat memberikan inspirasi kepada perempuan khusunya di NTT. Bahwa apa yang mereka hadapi bukan menjadi halangan untuk terus maju dan mengejar cita-cita. Bahwa sesungguhnya, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama, untuk ikut serta dalam pembangunan dan memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

Berikut, kutipan kisah mengesankan dari 11 perempuan NTT

  1. Adelina (22 th), Timor Tengah Selatan – Timor

“Waktu panen saya sendiri pikul jual di dua desa, teman lain gengsi. Pikul dengan ember sampai desa Fenun, berkilo-kilo jauhnya. Kalau kita gengsi kita tidak dapat uang”

Ia adalah seorang pemuda yang memanfaatkan lahan tidur di desanya untuk bercocok tanam. Akhirnya ia mendirikan kelompok tani, mengajak oara pemuda desa untuk bertanam sayur di lahan-lahan tersebut. Berkat perubahan yang telah dilakukan, Adelina dipercaya Kepala Desa untuk menjabat sebagai KAUR (Kepala Urusan) di desanya hingga saat ini.

  1. Kristina (25 th), Nagekeo – Flores

“Melihat lingkungan yang tak kunjung ada kemajuan bukan berarti membuat kita pergi menghindar. Kita dari daerah yang kuliah di kota boleh mengejar impian bekerja di kota, tapi harus ada manfaat dari ilmu yang kita dapat di kota untuk kampung halaman kita”

Perempuan yang bekerja sebagai staf UPP (Unit Penyelenggara Pelabuhan) ini mendirikan taman baca dirumahnya untuk anak-anak. Awalnya hanya spontan untuk memanfaatkan buku-buku bacaan daripada terbuang percuma. Ternyata, hal ini menarik perhatian anak-anak sekitar, yang sering mendatangi rumahnya untuk belajar dan membaca. Bahkan mereka suka menanyakan buku-buku baru, sehingga Kristina mulai mengumpulkan buku baru dari para rekan dan relawan.

  1. Meliana (17 th), Sikka – Flores

“saya rasa sebenarnya nasib saya masih lebih baik ketimbang orang lain. Ketika terlalu fokus kepada kekurangan pribadi, kita merasa seolah hanya kita yang paling menderita di dunia, padahal banyak orang lain yang lebih sengsara”

Remaja ini harus mengalami kebutaan mata kananya akibat permainan olahraga yang ia gemari, yaitu bulu tangkis. Hal itu terjadi saat ia mengambil kok yang terjatuh, dan ternyata temapnnya menggunakan batu sebagai kok dan ditangkis hingga terkena bola matanya. Sejak saat itu, ia mengalami trauma terhadap olahraga tersebut. Namun, hal ini bukan menjadi penghalangnya untuk terus bangkit.Ia tidak menyerah dengan aktivitas luar ruangan, terbukti ia berhasil masuk dalam barisan utama pengibar bendera. Ia juga aktif dalam komunitas dan sering mengadakan diskusi pengenai perlindungan anal dari kekerasan, terutama bullying.

  1. Eugenia (17 th), Timor Tengah Selatan – Timor

“Ada beberapa batasan yang hanya tercipta di kepala saja. Bila kita mampu memaksa diri menembus batasan yang ada, maka kita bebas berkreasi dan berprestasi”

Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk terus berprestasi. Ia berhasil meraih juara dua Duta Pangan dari Kabupaten Timor Tengah Utara. Prestasi itu bukan hal yang mudah mengingat perjuangannya untuk bisa mengikuti lomba, harus mengerjakan makalah dengan mendatangi rumah temannya untuk meminjam laptop. Tidak diberikan izin oleh sang mama karena sudah malam, tetapi ia nekat untuk pergi. Ia harus menempuh 6 km untuk mengikuti Technical meeting meskipun tidak punya uang untuk membayar ojek. Bahkan ia harus berhutang jasa untuk baju dan riasan yang ia kenakan di hari lomba. Saat tampil ia sempat bersedih dan menangis karena tidak ada satu orangpun yang hadir mendukungnya.

  1. Firmantia (27 th), Timor Tengah Utara – Timor

“Perubahan sebuah generasi dimulai dari pendidikan dan sebaik-baiknya pendidikan adalah yang dimulai sejak dini”

Sebagai sarjana lulusan PAUD, ia aktif di BKB-HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif) dan KPAD (Kelompok Perlindungan Anak Desa. Ia berhasil merintis mendirikan PAUD di desanya dengan enumpang di sebuah SD. Penghasilannya tak menentu mengingat sering kali orangtua murid tidak membayar iuran bulanan yang hanya sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Mereka lebih memilih menggunakan uang itu untuk membeli sopi (minuman keras khas Timor). Sempat mengalami putus asa dan stress, namun ia bangkit dan berhasil membuat pembangunan gedung PAUD menjadi prioritas pembangunan desa dalam musrembang.

  1. Bergita (22 th), Lembata

“Ita menekankan kesabaran adalah kunci perubahan. Ita memiliki misi yang jelas atas dirinya dan desanya walaupun segelintir orang yang tidak menyakini kemampuan dirinya”

Pemuda lulusan D2 IPB (Institut Pertanian Bogor) jurusan pertanian ini saat ini menjabat sebagai Kepala Urusan Umum di kantor Desa. Ia merupakan perempuan aktif di desanya. Selain menjadi aparat desa, ia terlibat dalam pembentukan TSB (Tim Siaga Bencana) desa dan terpilih sebagai sekretaris TSB. Ia dan kawan-kawan di desanya telah menyediakan langkah-langkah untuk memberdayakan para perempuan yang sudah memiliki anak namun ditinggal suaminya.

  1. Yovita (23 th), Timor Tengah Utara – Timor

“Apalah arti sederet angka bila dibandingkan senyum masa depan anak didiknya. Ia yakin dengan memasukkan anak ke PAUS juga akan mendorong para oarangtua untuk lebih peduli akan arti pendidikan dan mengutamakan pendidikan anak sejak kecil. Jadi yang ia lakukan merupakan awal penting bagi masa depan anak-anak didiknya”

Perjuangannya untuk menjadi guru PAUD dengan penghasilan dua ratus ribu rupiah per bulan bisa dikatakan sangat sulit. Ia harus membagi waktu dengan kuliah di kota, dan membayar ongkos untuk kuliah sebulan menghabiskan seratus lima puluh ribu rupiah. Perjuangannya tidak hanya sampai disini, ia mendorong pendidikan bagi anak perempuan agar mau bersekolah dengan mendatangi para orang tua di desa. Ia memberikan pengertian bahwa pendidikan itu penting baik untuk laki-laki dan perempuan, harus sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA.

  1. Elizabeth (24 th), Nagekeo – Flores

“Sulit untuk bangkit dari sebuah kesalahan, namun Elizabeth berhasil melakukannya dan justru sukses membuktikan bahwa ia masih mampu berprestasi”

Pemuda ini, sempat putus kuliah di usia 19 th karena hamil. Lelaki yang menjadi pacarnya tidak mau bertanggungjawab, dan ia harus mengalami beban ini sendiri karena keluarganya tidak bisa menerima. Sampai akhirnya kakak laki-lakinya membantunya dan mengembalikannya kebangku kuliah dan anaknya dirawat oleh kaka dan istrinya. Semenjak itu ia mulai merintis usaha untuk bisa mengurangi beban kakaknya. Ia membantu usaha mebel yang dimiliki kakanya dan mulai menekuni dunia perniagaan. Di kampus ia terpilih sebagai ketua BLM (Badan Legislatif Mahasiwa). Ia menjadi perempuan pertama yang berhasil menduduki jabatan itu.

  1. Nurdia (16 th), Lembata

“Baginya Polwan itu gagah, berani dan membela kebenaran. Cita-cita itu juga terbangun karena bapak berada di perantauan. Ia melindungi mama, keluarga serta tidak lupa masyarakat sekitar”

Tidak ada sosok lalki-laki dirumahnya, menjadikannya harus ikut bertanggungjawab dalam keluarga. Ia bangun jam empat pagi untuk mengambil air ke sumur, beres-bers, cuci piring, mengurus kambing, ambil kayu kemudian harus berjalan kaki menuju sekolah. Seluruh hal itu tidak menghalanginya untuk beprestasi. Ia berhasil menduduki peringkat pertama di kelasnya, juara lomba cerdas cermat, lomba ceramah tongkat kabupaten, dan pidato antar sekolah.

  1. Yosefa (19 th), Lembata

“Baginya segala kebaikan dan keburukan itu datangnya dari diri sendiri, maka sejarah pahit keluarga tidak ia jadikan alasan intuk membenci masa lalu, melaikan justru mengautkan dirinya untuk menerim keadaan dan mampu menerobos keterbatasan yang ada”

Masa lalu yang jauh dari kata menyenangkan, karena ia harus melihat secara langsung tindak kekerasan yang dilakukan bapaknya terhadap mama. Ia melihat kepada mama sampai bocor dan pakaian serta akte nikah dibakar di depan matanya. Hal yang dialaminya bukan berarti membuatnya ia membenci bapaknya. Ia terus menyongsong masa depannya yang ingin lanjut kuliah, maka ia bergabung bersama Youth Change Agent. Para agen perubahan ini menual 9 produk teknologi tepat guna, ramah lingkungan, dan hemat energi kepada masyarakat. Keuntungan yang ia peroleh digunakan untuk membiayai kuliahnya. Selain itu, ia menjadi wakil ketua OMK (Orang Muda Khatolik) dan melatih paduan suara.

  1. Nikita (15 th), Sikka – Flores

“Memajukan suatu daerah tak melulu harus kerja di pemerintahan atau jadi guru, tapi bisa juga dengan menjadi wirausahawan. Mendirikan bisnis yang bias mengangkat dan memberdayakan perempuan lain juga bisa menjadi salah satu solusi”

Di usinyanya yang masih muda, ia harus bangun pagi, membuat adonan saat subuh dan menjual kue di sekolah. Hal itu tidak mengahalnginya untuk berprestasi, ia selalu memperoleh peringkat juara dikelasnya dan selalu menjadi perwakilan sekolah untuk lomba. Ia aktif di sekolah dan dipercaya sebagai ketua OSIS. Mengetahui teman-teman seusianya sudah banyak yang menikah, ia aktif berbagi pengetahuan mengenai pernikahan anak dalam diskusi bersama teman-temannya di Forades (Forum Anak Desa). Ia mendorong agar yeman-temannya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ektrakulikuler dan berpacaran secara sehat untuk mencegah pernikahan dini.

Itulah sebelas kisah inspiratif perempuan NTT yang bisa kita petik semangatnya untuk terus berjuang. Sebagai perempuan NTT tentu segala hal itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita semua bisa turut serta melanjutkan semangat untuk pembangunan dan memajukan masyarakat, terutama perempuan . Dengan cara memahami dan menjunjung Hak perempuan.

Perlu diketahui, bahwasannya perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama, terutama dalam hal memperoleh pendidikan, memimpin , dan melakukan pembangunan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s